Beranda » Blog » Daging Kerbau Dalam Kuliner Khas Kudus

Daging Kerbau Dalam Kuliner Khas Kudus

Diposting pada 25 August 2013 oleh bodirkudus2 / Dilihat: 505 kali / Kategori:

Masyarakat Indonesia pada umumnya lebih mengenal daging sapi ketimbang daging kerbau. Menurut sebagian orang daging sapi relatif lebih merah dan berserat lembut. Sedangkan daging kerbau seratnya lebih kasar dan berwarna kehitaman. Akan tetapi, bagi masyarakat kota Kudus, penggunaan daging kerbau sebagi menu masakan adalah hal yang sangat biasa. Di Kudus, muncul beberapa variasi makanan yang mencampurkan daging kerbau sebagai pelengkap hidangannya. Selain soto ayam asli kudus yang sudah terkenal sebagai kuliner asli kudus, soto kerbau juga mudah didapat di beberapa tempat penjual soto, sehingga pembeli dapat memilih buat menu sotonya apakah memakai daging ayam atau daging kerbau.

Ketika menceritakan hal ini kepada beberapa teman, mereka sempat terkejut, “Hah, daging kerbau?”. Memang bagi yang tidak terbiasa pasti merasa jijik dengan dengan kerbau. Pada umumnya, masyarakat lebih terbiasa dengan daging sapi, ayam atau kambing. Namun bagi yang terbiasa tidak ada masalah untuk mengkonsumsi daging kerbau tersebut. Daging kerbau, hanya bisa di konsumsi masyarakat daerah tertentu.

Di Masakan sehari-hari, bahkan pada acara kenduri atau selamatan, warga kota Kudus banyak membuat masakan untuk kenduri atau “rasulan” yang dibuat dari daging kerbau dengan dibumbui semacam empal daging kerbau. Pada waktu Idul Adha atau Hari Raya Qurban masyarakat yang berkeinginan menyembelih binatang kurbanpun banyak yang berkurban dengan Kerbau baik dirumah sendiri maupin untuk Qurban di masjid-masjid atau di beberapa tempat penyembelihan binatang.

Tidak hanya soto yang menggunakan daging kerbau, beberapa makanan lain yang mencampurkan daging kerbau sebagai alternatif adalah nasi pindang. Nasi pindang adalah sejenis makanan khas Kudus yang kuahnya mirip dengan rawon dari Surabaya. Nasi pindang ini disajikan dengan sajian khas berupa piring yang diberi alas daun pisang dan sendok dari daun pisang yang disebut suru. Kuah pindang disajikan dengan daun so (daun melinjo) dan potongan daging kerbau. Penjual bisanya menawarkan tambahan lauk seperti usus atau iso, babat, paru atau jerohan lainnya sebagai pelengkap dan penyedap makanan. Bagi yang terkena kolesterol diharapkan untuk tidak perlu menambahkan jerohan kerbau ini kedalam makanan tersebut. Hal ini juga berlaku bagi soto kerbau. Beberapa penjual soto juga menjual nasi pindang sebagai variasinya tambahannya.

Selain Soto dan nasi pindang, kuliner menarik lainnya adalah sate kerbau. Tidak jauh berbeda dengan sapi, maka sate kerbau juga dibuat dari daging yang digiling dan dibumbui kemudian dibentuk pada tusukan sate yang terbuat dari bambu dan dibentuk pipih sehingga berbeda dengan tusuk sate ayam. Sate dibakar dan dibumbui dengan bumbu kacang atau kecap. Sate kerbau ini rasanya agak manis dan mereka yang tidak terbiasa akan menganggap sate ini terlalu manis.

Daging sapi sangat tidak lazim dipasarkan di kota Kudus. Kalau ada biasanya penyembelihannya dilakukan dari luar daerah Kudus seperti dari Semarang atau Kabupaten Pati. Bakso sapi memang banyak dijumpai di daerah Kudus. Namun di kuah baksonya untuk bakso kuah daging ditambahkan potongan daging daging kerbau. Bahkan karena sulitnya mendapatkan daging sapi di sekitar kota kudus beberapa penjual bakso membuat campuran baksonya dari daging kerbau.

Lalu apa yang menyebabkan konsumsi kuliner di Kudus didominasi dengan daging kerbau ketimbang daging sapi ? Hal ini tidak lepas dari masalah budaya yang melatar belakangi masyarakat di Kudus. Sapi adalah binatang yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu. Pada waktu penyebaran agama Islam oleh Walisongo. Untuk bertoleransi dengan masyarakat Hindu yang agama sebelumnya banyak dianut oleh masyarakat di sekitar kota kudus dititahkan untuk tidak menyembelih binatang sapi.

Sunan Kudus dengan toleransi umat beragama yang tinggi untuk menarik perhatian mereka agar tertarik untuk memeluk agama Islam, maka tidak memperkenankan masyarakat itu untuk menyembelih sapi. Keyakinan tersebut hingga sekarang diyakini oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya untuk tidak menyembelih sapi di daerah tersebut.

Tidak hanya dalam pantangan penyembelihan sapi, bentuk Mesjid Menara Kudus pun mirip sekali dengan bentuk pura Hindu yang banyak terdapat di Bali. Begitulah toleransi umat beragama di daerah Kudus yang hingga kini masih dipertahankan, meskipun beberapa kali terjadi penyembelihan sapi untuk kurban, namun kegemaran masyarakat Kudus menggemari daging kerbau hingga kinipun masih tetap menjadi tradisi. Tidak ada rotan akarpun jadi, tidak ada daging sapi, daging kerbaupun tetap enak untuk dikonsumsi. Silakan menikmati daging kerbau pada kuliner di Kudus.

Ditulis ulang dari artikel sulaksono di my chronicle

Bagikan ke

Daging Kerbau Dalam Kuliner Khas Kudus - Bordir Kudus

Komentar

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman ini.

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Raisa
● online
Raisa
● online
Halo, perkenalkan saya Raisa
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja